Thursday, 26 June 2014

DAY #11, Poor You Hongkong :'(

Kali ini, aku ga akan share foto (sekalipun hari ini aku dapet banyak foto bagus, serius) tapi aku bakal bikin suatu pengakuan. Semoga informasi ini dapat digunakan dengan bijak oleh siapa saja yang nemu blog ini akibat keyword di google.

Masih dalam pertandingan yang sama seperti sebelumnya, sehari sebelum final. Malam tadi, adalah penentuan siapakah tim yang akan lolos ke babak final, kategori Men Open. Salah satunya mempertandingkan antara Jawa(something *sengaja disensor* dan Hongkong. Trust me, walaupun hanya SEORANG, namun ia dapat melakukan banyak perubahan terhadap tim mu.

Begini kronologisnya. Dalam permainan polo, seorang pemain dilarang bermain kembali dalam suatu pertandingan bila ia mendapatkan tiga kali personal foul. Hal ini terjadi pada salah satu pemain kunci dari tim Jawa(something tersebut. Namun salah satu dari senior kami melihat bahwa pemain ini mengganti topinya yang berangka 6, menjadi topi nomor 4, alih-alih agar dapat bermain kembali berhubung hari sudah gelap dan sulit untuk menyadari hal tersebut. Tentu hal ini tidak diperbolehkan, karena setiap pemain sudah memiliki nomor topinya masing-masing. Dan mencatatkan namanya untuk topi tersebut di buku acara.

Sialnya, pemain ini berhasil mengelabuhi semua penonton, dan membuat permainan menjadi SANGAT SANGAT KETAT hingga akhir pertandingan! (yang seharusnya ia sudah tidak dapat bermain sejak di babak awal) Sedangkan si pemilik nomor 4, dengan bodohnya sembunyi diantara suporter tim mereka di tribun, tak jauh dari tempat kami duduk. Tidak perlu dijelaskan caranya, kami berhasil memberi tahu 'kepala' pertandingan yang langsung sigap mengecek kebenaran kabar tersebut.

Disamping itu, permainan berakhir dengan skor seri. Yang berarti harus diadakan adu penalti, masing-masing tim mengirimkan 5 pemain. Lagi-lagi, sekalipun pemain Hongkong memiliki kiper bak setan dan pemain dengan tembakan rudal, mereka tak mampu mengungguli tim lawan, kalah. Salah satu dari mereka pun menangis lho. Cowok, dewasa, dan menangis. Terharu rasanya ngeliat senior(nya) meluk dia, nenangin dia, patpat kepala. Apa nggak keterlaluan? Bahkan hingga detik terakhir, nggak ada tanda-tanda untuk memberi ganjaran pada lawan.

Kami pun menutup perlombaan dengan tepuk tangan riuh, bersama-sama dengan suporter tim Hongkong (terdiri atas tim U-20 dan Women Open dari kontingen yang sama) yang juga duduk di dekat kami. Sedari awal memang kami mendukung Hongkong kok. Setelahnya, kami turun dari tribun untuk segera pulang ke hotel. Bertemu dengan pelatih, kami menanyakan perihal kecurangan tim Jawa(something yang dapat menyebabkan diskualifikasi tersebut. Dan keputusan akhirnya adalah....

"If you kill your country, you never greaty"

Yang maksudnya adalah, Tim Hongkong tidak akan diberitahu berihal kecurangan tersebut. Karena bila itu terjadi, akan sulit mengundang mereka kembali ke Indonesia dalam perlombaan selanjutnya. Kalau sudah begini, siapa yang bersalah? Mengundang tim luar negeri untuk ajang seperti ini memang sulit, dan cenderung mengalami kemunduran dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi jujur, kalau aku ada diposisi, aku nggak akan tega untuk membiarkan mereka tidak meraih hasil yang sudah menjadi haknya. btw aku masih agak berharap para pengurus berubah pikiran untuk memberitahu Tim Hongkong perihal kecurangan ini, minimal memberi hukuman berat kepada yang bersangkutan, meskipun ada pengorbanan....

No comments:

Post a Comment